Beranda Headline Ungkapan Visual Et Cetera #1 dari Komunitas 22 Ibu

Ungkapan Visual Et Cetera #1 dari Komunitas 22 Ibu

101
0

bandung art month1Bandung, Sebelas12 – Komunitas yang diusung oleh para perempuan lintas profesi dan bermukim tidak dalam satu wilayah ini tergolong memiliki ritme serta gairah berkarya yang cukup tinggi, Grafik aktivitas pameran yang dilakukannya memperlihatkan intensitas serta frekuensi yang membanggakan di tengah kenyataan betapa masih kurangnya perempuan yang menempuh jalan seni sebagai pilihan hidup.

Bertempat di galeri thee huis (01.08. 2018) dibuka pameran Et Cetera #1 oleh Bapak Iwan Gunawan selaku Kasi atraksi Seni budaya daerah Jawa Barat. Dan dimeriahkan oleh Ganiati sebuah kelompok performance art yang mengusung konsep senam gentayangan dengan fashion era 70 an.

Para perupa yang sebagian besar memiliki profesi sebagai pendidik seni rupa ini nampak cukup memiiki siasat dalam mengolah kesadaran dan tanggung jawab pribadinya, baik terhadap keluarga maupun institusinya. Secara khusus, yang menarik dari dinamika kreatif para perupa ini bermuara pada perkara pentingnya menjaga keterbukaan komunikasi dan membangun relasi yang hangat dan terbuka dalam koridor gagasan, pengetahuan dan regenerasi.

Sepintas pandang, karya-karya yang ditampilkan dalam ‘Et cetera # 1’, nampak membawa ungkapan ekspresi yang beragam. Keragaman itu nampak dibangun melalui perbedaan eksplorasi media dan teknik yang beranjak dari potensi paling sederhana, semisal keutamaan pensil, drawing pen, cat air, akrilik, gutta tamarin hingga digital print serta mixed media. Sementara soal subyect matter yang dielaborasi para perupa perempuan ini nampak bergerak di antara gambaran fenomena sosial dan lingkungan terkait dunia benda-benda, khewan, tumbuhan, dan manusia.

Intensi yang dibawa pun beragam, mulai dari upaya mengabadikan sensasi keindahan alam, persoalan yang dirasakan baik dalam kaitan personifikasi maupun respon personal atas kehidupan, hingga gagasan yang bersifat inter aktif.

Tengok misalnya, karya yang ditawarkan oleh Ariesa Pandanwangi, Niken Apriani, Shitra Noor Handewi, Nina Irnawati penyerapan unsur (teknik) batik yang dipraktikannya nampak menimbulkan dialektika pemikiran paradoks dalam relasinya terhadap tradisi. Para perupa yang memanfaatkan potensi malam dingin (gutta tamarin) serta pewarna batik untuk merealisasikan gambaran abstraksi bunga, imaji-imaji plastis dan problem transfaransi ruang ini memperlihatkan bagaimana teknik gutta tamarin itu digunakan selain untuk perintang warna juga difungsikan sebagai jalan bagi artikulasi persoalan yang dipikirkan dan dirasakannya.

Dalam bentuk pengucapan yang lain, persoalan-persoalan yang tumbuh di sekitar diri sebagai ekspresi pengalaman pribadi ke arah pencarian metaphor dan personifikasi diri, nampak antara lain melalui tawaran Mia Syarief, Nita Dewi, Dini Birdieni, Ika Kurnia Mulyati, Arti Sugiarti, Nida Nabilah, Rina Mariana, Sri Sulastri, Nenny Nurbayani, Belinda Sukapura, Endah Purnamasari, Ayoeningsih Dyah Woelandari, Sri Sulastri, Yustine.

Dbandung art month 2018 (2)alam karya-karya para perupa tersebut, terlacak bahwa penyusunan narasi yang membayangi dan mendasari karya dapat selain bermula dari pengamatan atas sensasi, imajinasi dan upaya pencarian metaphor, baik terhadap dunia benda-benda termasuk penekanan atas relasi pemaknaan dalam melalui sistem penandaan visualnya, dapat pula beranjak dari upaya membangkitkan kembali berbagai gambaran dalam ingatan.

Dalam pespektif yang berbeda dengan prupa lain yang berpijak pada tradisi drawing, Risca Nogalesa Pratiwi nampak melebarkan kemungkinan narasi yang tumbuh dalam karya melalui metode inter aktif.

Penyerapan atas media baru yang disokong teknologi digital dalam berbagai bentuknya telah disikapi dan dimanfaatkan sebagai alat ungkap dalam penyampaian ekspresi oleh banyak perupa. Pengabadian momen yang fana atau bagaimana realitas yang sesungguhnya bergerak cepat itu dibekukan, nampak dalam karya Endang Caturwati.

Penyikapan atas medium dan kemungkinan pengolahan citra (visual) yang membuka pula orientasi bagi eksplorasi dan pencarian bahasa baru nampak ditempuh oleh Nuning Damayanti.

Pergumulan dan pencarian nilai ekspresi yang ditempuh dan dijalani oleh para perupa yang tergabung dalam Komunitas 22 Ibu dengan keragaman ungkapan yang ditawarkannya di thee huis gallery ini tentu tidak sedang mengusulkan cara baru dalam mengartikulasikan berbagai persoalan dalam kehidupan secara estetis, melainkan turut menawarkan dan memperkaya ikhwal dan lain-lain sebagai entitas yang bermakna dalam proses kreasi menjadi semacam jalan terbuka bagi apresiasi, terlebih mengingat bahwa pengucapan seni sejatinya senantiasa menawarkan ke-beragam-an dan unik. (red/Sumber: Komunitas 22 Ibu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.