Beranda Ragam Pemilihan Ketua KNPI dan Revolusi Mental

Pemilihan Ketua KNPI dan Revolusi Mental

20
0

Oleh : Ketua DPC Pemuda Demokrat Indonesia Kota Bandung

Budaya sowan diartikan sebagai sebuah keharusan seseorang menghadap kepada orang yang dianggap guru, orang tua atau yang dianggap menempati strata yang lebih tinggi dalam urut urutan kekuasaan.

Sowan merupakan wujud dari teori patron klien, seperti diungkapkan oleh James Scott (1972), dimana seorang individu dengan status sosio-ekonomi yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh sumberdayanya untuk memberikan perlindungan yang akan memberikan keuntungan bagi pengaruh seseorang yang statusnya lebih rendah (klien) dimana klien akan memberikan imbalan dengan menawarkan dukungan menyeluruh, termasuk layanan pribadi kepada patronnya.

Politik Indonesia sangat sarat dengan budaya sowan yang bisa diartikan memohon restu dan dukungan kepada seseorang yang dianggap memiliki strata kekuasan tertinggi di wilayah tertentu, dan hal itu biasa dilakukan menjelang adanya sebuah perhelatan perebutan kekuasaan pada strata yang lebih rendah dimana patrun berkuasa.

Pada politik indonesia modern akhir abad 19 yang diinisiasi gelombang kekuatan anak muda/mahasiswa dengan idealismenya menuntut dihadirkannya kesetaraan/egaliter dalam berbagai ruang.

Namun harapan dan keinginan itu tidak sepenuhnya mampu dilaksanakan. Budaya patron-klien masih begitu kental mewarnai dan itu menunjukan revolusi mental sosial dan politik sampai saat ini tidak berjalan sesuai harapan klo tidak mau dikatakan gagal.

Sebentar lagi terjadi perhelatan pemilihan ketua KNPI Baik di tingkat kota/kab yang merupakan wahana pertarungan anak-anak muda dalam beradu ide dan gagasan bagaimana generasi muda ikut berperan dalam berbagai sendi kehidupan serta pembangunan sebagai sebuah batu loncatan estafet kepemimpinan bangsa kedepan, sehingga dari sinilah diharapkan muncul pemimpin-pemimpin masa depan yang teruji dan mumpuni.

Terbukti seperti yang diuraikan di atas, bahwa revolusi mental telah gagal dengan tetap saja budaya sowan (mohon restu dan dukungan) kepada penguasa dalam hal ini wali kota masih dilakukan kandidat. Restu dan dukungan ini akan menghasilkan balas budi yang membuat kelembagaan KNPI menjadi tidak sehat, terkooptasi oleh kepentingan kekuasaan, budaya ini diperkuat oleh posisi kepala daerah sebagai pemegang kuasa pengelola anggaran dimana sumber pendanaan KNPI berasal dari APBD , akibatnya siapa saja kandidat yang mendapat restu/dukungan kepala daerah berpeluang untuk menenangkan kontestasi pemilihan ketua KNPI.

Adanya kekhawatiran apabila kandidat terpilih bukan atas restu kepala daerah tidak akan mendapat dukungan pendanaan yang pantas, merupakan kekhawatiran yang tidak perlu dan berlebihan, sebab pendanaan KNPI merupakan kewajiaban kepala daerah yang diatur oleh UU dalam upaya daerah mengembangkan sumber daya kepemudaan.

Kandidat yang menang atas restu kepala daerah bukti bahwa revolusi mental di kalangan anak muda yang lebih dulu menggelorakan tuntutan kesetaraan tidak berhasil.

Quo vadis revolusi mental

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.