Bandung, sekilasjabar.co – Ketua NPCI Kota Bandung, Yadi Sofyan, menegaskan pihaknya tidak akan memberi ruang bagi atlet non-disabilitas untuk tampil dalam Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) VII Jawa Barat 2026.
NPCI Kota Bandung bersama NPCI Jawa Barat menurutnya bakal memperketat tahapan klasifikasi atlet guna memastikan kompetisi berjalan fair dan sesuai aturan.
Lantaran, keterlibatan atlet non-disabilitas dalam ajang khusus atlet disabilitas dinilai sebagai pelanggaran serius yang merusak sportivitas.
“Ya terkait itu akan kita koordinasikan klasifikasi dengan NPCI Jawa Barat seketat mungkin,” kata Yadi.
“Kita akan kasih masukan dan kita bersama-sama juga akan kita masukkan tim klasifikasi dari kita juga untuk mengawasi hal itu,” tegasnya.
Baca Juga: NPCI Kota Bandung Gelar Seleksi Atlet, Fokus Bentuk Tim Tangguh Peparda 2026
Yadi menjelaskan, guna membedakan atlet disabilitas dan non-disabilitas sebenarnya tidak sulit, karena ada beberapa tahapan yang harus dilalui.
“Sebenarnya gampang, kalau yang non-disabilitas itu kan ada riwayat dokternya, ada riwayat SLB nya. Gak bisa misalnya ujuk-ujuk tiba-tiba klasifikasinya lolos gitu kan. Itu enggak bisa gitu,” ucapnya.
“Saya juga kurang paham. Tapi mekanisme-mekanisme sebenarnya kalau dijalankan dengan baik, itu enggak bakal yang umum masih masuk ke disabilitas,” jelasnya.
Sebagai tuan rumah Peparda VII Jawa Barat 2026, pihaknya memastikan NPCI Kota Bandung berkomitmen menjaga integritas kompetisi dan menolak keras adanya atlet non-disabilitas yang ikut bertanding.
“Sebagai tuan rumah penyelenggara dan sebagai Ketua Umum NPCI Kota Bandung, saya haramkan yang non disabilitas ikut bertanding di Peparda kali ini. Seperti yang pernah terjadi di Peparda sebelumnya,” jelasnya.
“Karena atlet non disabilitas kan sudah punya panggungnya sendiri. Iya kan. Masa yang normal bertanding dengan atlet disabilitas?,” tegasnya. (arf)




