Beranda Bandung Raya Di RW 19 Antapani Tengah, Warga Kelola Sampah Secara Terintegrasi

Di RW 19 Antapani Tengah, Warga Kelola Sampah Secara Terintegrasi

119
0

Bandung, sekilasjabar.co РJasmine Intigrated Farming merupakan kawasan pertanian integrasi yang berada di RW 19 Kelurahan Antapani Tengah.

Di sana, terdapat tempat pengolahan sampah organik, Buruan Sae, budidaya ikan, budidaya ayam petelur, dan lainnya. Ada pula warga kelompok berkebun.

Dikatakan terintegrasi karena seluruh kegiatan di Jasmine Intigrated Farming saling berhubungan satu sama lain.

Dari awal pengolahan sampah hingga menghasilkan, baik itu tanaman atau produk hewani, terintegrasi.

Hal ini yang membuat sampah dari masyarakat dapat dikelola dengan maksimal dan dirasakan manfaatnya.

Ketua RW 19, Dodi Iriana menjelaskan, Jasmine Intigrated Farming didirikan atas gagasan warga untuk memanfaatkan lahan.

“Lahan di RW 19 ini tiga tahun yang lalu merupakan hutan kota. Lama tidak terurus sehingga banyak binatang liar seperti ular besar. Kemudian warga sepakat bergotong royong untuk kepetingan warganya sendiri,” ungkap Dodi saat ditemui di RW 19 Kelurahan Antapani Tengah.

Setelah itu, dibentuk kawasan khusus untuk pengolahan sampah, Kang Pisman, yang didominasi oleh ibu-ibu.

Ketua Kelompok Jasmine, Eni Yuningsih menjelaskan, masyarakat sangat antusias dengan program ini. Apalagi semenjak ada Virus Covid-19, banyak warga yang berdiam diri di rumah tanpa kegiatan.

Untuk itu, Eni mengajak ibu-ibu di RW-19 untuk bergabung menjalankan program-program pengolahan sampah.

Saat ini terdapat 30 orang yang tergabung dalam kelompok Jasmine Intigrated Farming.

“Kita membuat Kang Pisman agar ada kegiatan untuk ibu-ibu di sini. Akhirnya kita ajak ibu-ibu untuk bergabung ke Kang Pisman dan kelompok berkebung ini,” katanya.

“Selain edukasi tentang pengolahan sampah dan berkebun, ibu-ibu pun bisa sambil rekreasi,” imbuhnya.

Metode yang digunakan untuk mengolah sampah di antaranya pengomposan sampah organik dengan Metode Open Windrow, Mikro Organisme Lokal (MOL) dan membudidayakan Maggot (Larva lalat hitam).

Sedangkan Sekretaris Jasmine, Anindia menjelaskan, pengolahan sampah dengan Metode Open Windrow nantinya menghasilkan pupuk kompos padat.

Sedangkan metode MOL menghasilkan pupuk kompos cair. Kemudian Kompos digunakan untuk tanaman Buruan Sae.

Sementara itu, sampah organik yang dikelola menggunakan metode maggot dapat terurai habis.

Kini hasil dari Jasmine Intigrated Farming sudah bisa dirasakan warga. Ke depannya akan disosialisasikan lebih luas kepada warga agar mulai memilah sampah dari rumah.

“Kita ingin merangkul warga lebih banyak lagi untuk memilah sampah dari rumah. Rencananya akan memberikan reward kepada warga yang sudah memilah sampah dari rumah,” ujar Anindia.¬†(red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.